-->

Featured post

Mencari Filsafat Terakhir

MENCARI FILSAFAT TERAKHIR? Dalam sejarah panjang filsafat, belum pernah ada seorang pun yang mencoba mengakhiri seluruh perjalanan filsa...

Gadis Metafisik

Ada secercah harapan ketika sang surya menampakkan dirinya.
Secercah harapan yang Ia tujukkan, diperuntukkan bagi hewan dan manusia.
Sama halnya ketika Aku memalingkan pandanganku kepada matamu, kasih.
Pikatan tak terlihat di antara mata kita mendorongku untuk mencintai hidup.
Karena hidup di dunia memang sementara, tetapi kitakan abadi dalam cinta.
Oh... si pemilik senyum tipis nan menggoda, di antara bulan dan bintang yang paling terang sekalupun, ciumanmu senantiasa teringat dalam mimpi sang perindu ini.
Birahi muncul dalam pekat malam senin di burjo yang menjadi kerinduan sang pelantur.
Gerimis hujan membasahi jalan-jalan kota Jogja laksana tangismu di jendela coklat yang berteralis besi.
Jika boleh sang perindu ini meminta, Aku ingin menghabiskan sisa umur bumi untuk terus bersamamu, merangkai angin, merajut pelangi, dan menenun jagat raya.
Oh... gadis bersepatu biru, sebegitu indahnya matamu sehingga tak mampu Aku berlama-lama menatap indahnya, seolah-olah Tuhan hadir dalam kilau air mata yang mulai turun di pipimu yang merona.
Jalan-jalan di Napoli seakan tak mampu melupakan bayang-bayang dirimu balik buku-buku perpustakaan UGM.
Terbang ke New York, melihat patung liberty, kemudian menangis.
Teringat pidatomu saat kesal melihat Fadli Zon di Metro TV.
Apanya yang merdeka! Wakil rakyat perilakunya seperti orang mati yang tak pantas dilayat.
Berlayar ke Rusia, teringat Stalin dan Vladimir Putin, seteguk vodka lalu tersenyum.
Terkenang laku manjamu menggelayut dan memanyunkan bibir merah mudamu minta dibelikan coklat.
Oh... gadis metafisikku, adakah kamu di antara besarnya UGM?

Oleh: Muhammad Nur Alam Tejo dan Aldo Muhes

0 Response to "Gadis Metafisik"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel